Kembali ke Daftar Bab Tafsir Jalalain
Tafsir Jalalain

Bab 93 — Adh-Dhuha

Spasi Baris:
Ukuran Teks:

{ والضحى } أي أول النهار أو كله { والليل إذا سجى } غطى بظلامه أو سكن { ما ودعك } تركك يا محمد { ربك وما قلى } أبغضك نزل هذا لما قال الكفار عند تأخر الوحي عنه خمسة عشر يوما : إن ربه ودعه وقلاه { وللآخرة خير لك } لما فيها من الكرامات لك { من الأولى } الدنيا { ولسوف يعطيك ربك } في الآخرة من الخيرات عطاء جزيلا { فترضى } به فقال صلى الله عليه و سلم : [ إذن لا أرضى وواحد من أمتي في النار ] إلى هنا تم جواب القسم بمثبتين بعد منفيين { ألم يجدك } إستفهام تقرير أي وجدك { يتيما } بفقد أبيك قبل ولادتك أو بعدها { فآوى } بأن ضمك إلى عمك أبي طالب { ووجدك ضالا } عما أنت عليه من الشريعة { فهدى } أي هداك إليها { ووجدك عائلا } فقيرا { فأغنى } أغناك بما قنعك به من الغنيمة وغيرها وفي الحديث : [ ليس الغني عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس ] { فأما اليتيم فلا تقهر } بأخذ ماله أو غير ذلك { وأما السائل فلا تنهر } تزجره لفقره { وأما بنعمة ربك } عليك بالنبوة وغيرها { فحدث } أخبر وحذف ضميره صلى الله عليه و سلم في بعض الأفعال رعاية للفواصل

Terjemahan Bahasa Indonesia

tafsir jalalain terjemah indonesia Adh-Dhuha Ayat 1-11 1. (Demi waktu Dhuha) yakni waktu matahari sepenggalah naik, yaitu di awal siang hari; atau makna yang dimaksud ialah siang hari seluruhnya. 2. (Dan demi malam apabila telah sunyi) telah tenang, atau telah menutupi dengan kegelapannya. 3. (Tiada meninggalkan kamu) tiada membiarkan kamu sendirian, hai Muhammad (Rabbmu, dan tiada pula Dia benci kepadamu) atau tidak senang kepadamu. Ayat ini diturunkan setelah selang beberapa waktu yaitu lima belas hari wahyu tidak turun-turun kepadanya, kemudian orang-orang kafir mengatakan, sesungguhnya Rabb Muhammad telah meninggalkannya dan membencinya. 4. (Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu) maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi. 5. (Dan kelak Rabbmu pasti memberimu) di akhirat berupa kebaikan-kebaikan yang berlimpah ruah (lalu kamu menjadi puas) dengan pemberian itu. Maka Rasulullah bersabda, "Kalau begitu mana mungkin aku puas, sedangkan seseorang di antara umatku masih berada di neraka." Sampai di sini selesailah Jawab Qasam, yaitu dengan kedua kalimat yang dinisbatkan sesudah dua kalimat yang dinafikan. 6. (Bukankah Dia mendapatimu) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir atau menetapkan (sebagai seorang yatim) karena ayahmu telah mati meninggalkan kamu sebelum kamu dilahirkan, atau sesudahnya (lalu Dia melindungimu) yaitu dengan cara menyerahkan dirimu ke asuhan pamanmu Abu Thalib. 7. (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung) mengenai syariat yang harus kamu jalankan (lalu Dia memberi petunjuk) Dia menunjukimu kepadanya. 8. (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan) atau orang yang fakir (lalu Dia memberikan kecukupan) kepadamu dengan pemberian yang kamu merasa puas dengannya, yaitu dari ganimah dan dari lain-lainnya. Di dalam sebuah hadis disebutkan, "Tiadalah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya itu adalah kaya jiwa." 9. (Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang) dengan cara mengambil hartanya atau lain-lainnya yang menjadi milik anak yatim. 10. (Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya) membentaknya karena dia miskin. 11. (Dan terhadap nikmat Rabbmu) yang dilimpahkan kepadamu, yaitu berupa kenabian dan nikmat-nikmat lainnya (maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya) yakni mengungkapkannya dengan cara mensyukurinya. Di dalam beberapa Fi'il pada surah ini Dhamir yang kembali kepada Rasulullah tidak disebutkan karena demi memelihara Fawashil atau bunyi huruf di akhir ayat. Seperti lafal Qalaa asalnya Qalaaka; lafal Fa-aawaa asalnya Fa-aawaaka; lafal Fahadaa asalnya Fahadaaka; dan lafal Fa-aghnaa asalnya Fa-aghnaaka
« Bab 92 Bab 94 »