Kembali ke Daftar Bab Futuhul Ghaib
Futuhul Ghaib

Bab 79 — Risalah 79

Spasi Baris:
Ukuran Teks:
Halaman Teks Arab 1 / 2

تكملة في ذك79-ياه لأولاده قدِّست أسرارهم و بعض مقالات نافعة أوردها و مرضه و وفاته رضي الله عنه و أرضاه انه رضي الله تعالى عنه و أرضاه لما مرض مرضه الذي مات فيه و قال له ابنه عبد الوهاب قدس سره، أوصني يا سيدي بما أعمل به بعدك فقال رضي الله تعالى عنه و أرضاه : عليك بتقوى الله عزّ و جلّ، و لا تخف أحداً سوى الله، و لا ترج أحداً سوى الله، وكل الحوائج إلى الله عزّ و جلّ، و لا تعتمد إلا عليه، و أطلبها جميعاً منه تعالى، و لا تتكل على أحد غير الله سبحانه، التوحيد التوحيد جماع الكل. و قال رضي الله تعالى عنه و أرضاه : إذا صح القلب مع الله عزّ و جلّ لا يخلو منه شئ و لا يخرج منه شئ. و قال رضي الله تعالى عنه و أرضاه : أنا لب بلا قشر. و قال رضي الله تعالى عنه لأولاده : أبعدوا من حولي فإني معكم بالظاهر و مع غيركم بالباطن. و قال رضي الله تعالى عنه :قد حضر عندي غيركم فأوسعوا لهم و تأدبوا معهم، هاهنا رحمة عظيمة، و لا تضيقوا عليهم المكان. و كان رضي الله تعالى عنه يقول : عليكم السلام و رحمة الله و بركاته، غفر الله لي و لكم، تاب الله على و عليكم، بسم الله غير مودعين. قال ذلك يوماً و ليلة. و قال رضي الله تعالى عنه :ويلكم أن لا أبالى بشئ، لا بملك و لا بملك الموت، منح لنا من يتولانا سواك، و صاح صيحة عظيمة و ذلك في اليوم الذي مات في عشيته رضي الله تعالى عنه. و أخبر ولداه الشيخ عبد الرزاق و الشيخ موسى قدست أسرارهما أن حضرة الغوث رضي الله تعالى عنه كان يرفع يديه و يمدها و يقول : و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته، توبوا و أدخلوا في الصف إذا جئ إليكم. و كان رضي الله تعالى عنه يقول : أوقفوا، ثم أتاه الحق و سكرة الموت.

Terjemahan Bahasa Indonesia

kitab kuning | kitab kuning dan terjemahannya | terjemahan kitab kuning RISALAH PENUTUP 79-80 Wasiat Syeikh kepada putra-putranya RISALAH 79 Ketika wali Allah ini (Syaikh Abdul Qadir Jailani) sakit yang membawa kematiannya, putranya yang bernama Syaikh Abdul Wahhab berkata kepadanya, “Berikanlah satu nasehat kepadaku sebelum ayah meninggal dunia untuk kujadikan pegangan.” Ia berkata kepada putranya, “Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu takut kepada selain Dia. Janganlah kamu berharap kepada siapapun selain kepada Dia saja, dan mintalah segala kebutuhanmu kepada-Nya. Janganlah kamu bergantung kepada siapaun selain kepada Dia saja dan tumpukanlah kepercayaanmu kepada-Nya saja. Bertauhidlah kepada-Nya. Semua orang setuju tentang hal ini”. Lalu katanya lagi, “Apabila hati itu telah benar-benar bersatu dengan Allah, maka tidak ada lagi yang dirasakan tinggal di dalamnya kecuali Allah dan tidak ada yang datang kepadanya dari diri manusia”. Sambungnya lagi, “Aku ini ibarat isi tanpa kulit”. Selanjutnya ia berkata, “Orang lain datang berkunjung kepadaku. Berilah mereka ruang untuk duduk dan hormatilah mereka. Di sini ada manfaat yang besar. Janganlah kamu sesakkan tempat mereka itu”. Terdengar juga ia berkata, “Selamatlah dan sejahteralah kamu berada di dalam rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga Allah melindungi aku dan kamu serta melimpahkan rahmat-Nya kepada aku dan kamu. Aku memulai sesuatu dengan nama Allah dengan tiada henti-hentinya”. Sehari semalam, ia terus berkata, “Celakalah kamu ! Aku tidak takut kepada siapapun, sekalipun kepada malaikat maut. Wahai malaikat maut, bukanlah kamu yang aku takuti, melainkan Dia Yang menolongku dan Yang memberi karunia kepadaku”. Kemudian, iapun diam. Ini terjadi pada malam hari kembalinya Syaikh ke rahmatullah. Aku diberi tahu oleh putra-putranya, Abdul Razaq dan Musa bahwa syaikh telah mengangkatkan tangannya lalu meluruskannya dan terdengar perkataannya, “Selamatlah dan sejahteralah kamu berada di dalam rahmat Allah. Bertobatlah dan masuklah ke dalam barisan-Nya. Tidak lama lagi aku akan datang kepada-Mu”. Syaikh berkata, “Tunggu !”. Kemudian, iapun kembali ke rahmatullah. RISALAH 80 Antara diriku dengan dirimu dan mahluk, hanya ada Dia saja, seperti antara langit dan bumi. Oleh karena itu, janganlah kamu samakan aku dengan sesuatu dari mereka dan janganlah kamu menyamakan sesuatu dari mereka dengan aku. Kemudian, Abdul Aziz, putranya, bertanya kepadanya tentang sakit dan keadaannya. Ia berkata, “Janganlah ada seorangpun yang bertanya kepadaku. Aku sedang dibalik-balikkan di dalam ma’rifat Allah”. Juga diriwayatkan bahwa Abdul Aziz bertanya kepada ayahnya tentang sakitnya. Berkenaan dengan hal ini, ayahnya menjawab, “Sesungguhnya tidak ada seorangpun, baik manusia maupun jin sekalipun malaikat, yang mengetahui penyakitku. Ilmu Allah tidak akan hilang dengan perintah Allah. Perintah itu akan berganti-ganti, sedangkan ilmu tidak akan pernah berganti. Perintah itu bisa dibatalkan, sedangkan ilmu tidak bisa. Allah menghilangkan dan mendatangkan apa yang dikehendaki-Nya, dan kepunyaan-Nya adalah Al Qur’an. “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya. Dan merekalah yang akan ditanya.” (QS 21:23) Sifat-sifat itu, sebagaimana telah dikatakan, terus bergerak. Kemudian tibalah masanya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ketika itu ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dengan membaca: Tidak ada yang disembah kecuali Allah. Dia Maha Agung lagi Maha Tinggi, Yang Kekal Abadi selamanya, Yang tidak takut kepada kebinasaan. Segala puji bagi Allah Yang Menegakkan kekuasaan-Nya dengan kekuatan-Nya dan menguasai hamba-hamba-Nya dengan kematian. Tidak ada yang disembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah Rasulullah.” Aku diberitahu oleh putranya yang bernama Musa bahwa ayahnya mengucapkan kata-kata ‘Ta’azzuz’ sambil lidahnya tidak dapat berkata dengan baik. Oleh karena itu, kata-katanya itu diucapkannya terus sampai ia bisa berkata dengan baik. Kemudian ia mengucapkan, “Allah, Allah, Allah”. Semakin lama suaranya semakin perlahan dan lidahnya melekat pada langit-langit mulutnya. Setelah itu, jiwanya yang mulia itupun berpisah dari badannya. Semoga Allah meridhainya. Semoga Allah mengkaruniakan kasih sayang-Nya kepada kita sekalian dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat. Dan semoga di akhir hayat nanti kita berada dalam keadaan iman, tanpa kita dihinakan-Nya dan diletakkan-Nya di dalam ujian. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Amin, amin, amin.,
« Bab 78 Bab 80 »